PALEMBANG – Tujuh tahun sudah H. Sofyan Jamal, S.H., M.H., berpulang. Mantan Wakil Bupati Empat Lawang periode 2008-2013 itu wafat pada Sabtu, 5 Oktober 2019, pukul 06.20 WIB di RS Siti Khodijah Palembang.

Namun, kepergiannya tidak menghapus jejak. Ia meninggalkan sesuatu yang lebih kekal dari bangunan dan jabatan: sebuah kompas moral.

Bagi putranya, M. Oktafiansyah atau yang akrab disapa Engga, yang kini mengemban amanah sebagai Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan, sosok yang biasa disapa HSJ itu bukan sekadar ayah. Ia adalah sekolah kepemimpinan pertama dan utama.

“Almarhum ayah selalu berpesan, tetap amanah dalam memperjuangkan setiap amanah yang diberikan oleh rakyat. Jabatan itu bukan tahta, tapi legacy hidup menuju akhirat,” kenang Engga, Rabu (06/10/2026).

Pesan yang Menjadi Kompas

Kalimat itu pendek, tetapi menjadi penentu arah.

Bagi HSJ, seorang Magister Hukum, jabatan bukanlah panggung untuk gagah-gagahan. Jabatan adalah titipan yang berat. Amanah yang akan ditagih pertanggungjawabannya, tidak hanya di hadapan manusia dan konstitusi, tetapi juga di hadapan Tuhan.

Di tengah praktik politik yang sering kali transaksional, HSJ memilih jalan yang sepi: berintegritas.

Di mata keluarga, ia adalah figur ayah dan kakek yang mengajarkan prinsip hidup bukan dengan ceramah yang berapi-api, melainkan dengan keteladanan yang konsisten. Ia tegas dalam prinsip, namun lembut dalam mendidik.

Ia tidak mewariskan cara untuk meraih kuasa dengan jalan pintas. Ia mewariskan cara menjaga kuasa dengan ilmu dan integritas. Ia percaya, pendidikan adalah satu-satunya warisan yang tidak akan pernah habis dicuri oleh waktu.

Warisan yang Hidup

Kini, tujuh tahun setelah kepergiannya, warisan itu hidup dan bekerja.

Di Gedung DPRD Sumatera Selatan, Engga dikenal sebagai wakil rakyat yang tidak banyak bicara, tetapi bekerja menjaga kepercayaan. Ia memegang teguh setiap aspirasi yang dititipkan, persis seperti yang diajarkan ayahnya.

Jika banyak pemimpin dikenang karena apa yang ia bangun secara fisik, H. Sofyan Jamal dikenang karena bagaimana ia menjaga prinsip ketika banyak orang memilih untuk abai.

Ia mengajarkan bahwa keadilan harus ditegakkan meski tidak populer. Bahwa seorang pemimpin harus berani untuk tetap lurus, meski harus berjalan sendirian.

Tujuh tahun berlalu, Empat Lawang telah berganti zaman, berganti pemimpin. Namun bagi keluarga dan orang-orang yang mengenalnya, HSJ masih menjadi penanda moral: bahwa pemimpin terbaik bukanlah yang paling lama berkuasa, melainkan yang menjadikan jabatannya sebagai jembatan amal menuju akhirat.

Al-Fatihah untuk H. Sofyan Jamal