PALEMBANG — Usaha kuliner Pempek Tumpah Yudi terus berbenah seiring dengan perkembangan kegiatan usahanya. Sejumlah persyaratan yang sebelumnya menjadi perhatian dalam inspeksi telah ditindaklanjuti, termasuk kelengkapan dokumen perizinan usaha.

Pemilik Pempek Tumpah Yudi Pasar 16 Ilir, M. Wahyudi atau Yudi, menyampaikan perkembangan tersebut dalam konferensi pers di Jalan KH Balqi, 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang, Kamis (17/9/2026).

Yudi mengatakan, pihaknya telah melengkapi dokumen perizinan yang diperlukan. Pengelolaan limbah juga menjadi bagian dari perhatian dalam pembenahan operasional usaha.

“Alhamdulillah, untuk surat izin sekarang kami sudah ada,” kata Yudi.

Menurutnya, proses inspeksi sebelumnya menjadi kesempatan bagi pengelola untuk mengevaluasi kegiatan usaha sekaligus melengkapi sejumlah hal yang diperlukan. Ia berharap pembenahan tersebut dapat membuat aktivitas produksi berjalan semakin tertib dan sesuai dengan ketentuan.

“Harapan kami mudah-mudahan tidak ada lagi masalah tentang Pempek Yudi. Yang pastinya kami sudah mengikuti SOP yang ada. Dengan adanya sidak ini kami juga jadi mengetahui apa saja yang harus kami urus. Hasil positifnya seperti itu,” ujarnya.

Di tengah proses pembenahan, Pempek Tumpah Yudi juga terus mengembangkan kegiatan produksinya. Usaha yang telah berjalan selama beberapa tahun itu kini mengolah sekitar 20 hingga 30 kilogram bahan baku per hari.

Kapasitas produksi disebut berada pada kisaran 1.000 hingga 3.000 pempek per hari, bergantung pada kebutuhan. Yudi mengatakan produk yang dihasilkan umumnya terserap oleh permintaan konsumen.

Perkembangan tersebut turut memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Saat ini, Pempek Tumpah Yudi mempekerjakan lebih dari 15 orang.

“Dalam sehari produksi sekitar 20 sampai 30 kilogram. Alhamdulillah sekarang pegawai sudah sekitar 15 orang lebih. Kalau pempek, sehari bisa menghasilkan sekitar seribu sampai tiga ribu pempek dan biasanya habis,” katanya.

Bagi Yudi, pertumbuhan usaha tersebut menjadi bagian dari perjalanan membangun usaha kuliner secara bertahap. Selain mempertahankan kegiatan produksi, pihaknya juga berupaya memastikan aspek administrasi dan operasional berjalan seiring dengan perkembangan usaha.

Seperti pelaku usaha kuliner lainnya, Yudi mengakui perubahan harga bahan baku masih menjadi salah satu tantangan. Sagu dan minyak sayur disebut sebagai bahan yang harganya cukup sering mengalami kenaikan.

“Kalau kendala tidak ada. Yang sering itu bahan baku, seperti sagu yang harganya suka naik dan minyak sayur. Selebihnya tidak ada,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua RT 02 RW 01 Plaju, Kelurahan 16 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, Yuliana, membenarkan bahwa pihak pengelola telah menindaklanjuti sejumlah arahan yang sebelumnya disampaikan pemerintah setempat.

“Alhamdulillah sekarang sudah ada surat izin. Yang disampaikan Pak Lurah dan Pak Camat juga sudah dipenuhi semua,” ujar Yuliana.

Menurut Yuliana, proses tersebut menjadi evaluasi positif bagi pengelola agar kegiatan usaha ke depan dapat berlangsung lebih tertib, sekaligus tetap memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.

Ia berharap Pempek Tumpah Yudi dapat kembali menjalankan aktivitas produksinya secara normal setelah berbagai persyaratan ditindaklanjuti.

“Harapan saya kembali seperti biasa berproduksi. Ini menjadi pelajaran untuk ke depannya supaya lebih baik lagi,” tutupnya.

Dengan perjalanan usaha yang terus berkembang, kapasitas produksi yang meningkat, serta penyerapan tenaga kerja di lingkungan sekitar, Pempek Tumpah Yudi kini memasuki tahap pembenahan dan penguatan tata kelola. Perkembangan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan usaha kuliner lokal di Palembang.