Palembang|MEDIAUNGKAPFAKTA.COM
Belakangan ini istilah Ilmu Laduni kembali ramai diperbincangkan di tengah masyarakat dan media sosial. Di berbagai kalangan spiritual dan penggiat olah batin, istilah tersebut kerap dikaitkan dengan kemampuan proteksi batin yang diyakini mampu membuat seseorang yang datang dengan niat zolim, emosi negatif, atau dorongan menyerang menjadi lemas, kehilangan fokus, kaku, hingga mengurungkan niatnya.
Fenomena tersebut memunculkan beragam persepsi di masyarakat, mulai dari yang memahaminya sebagai bentuk kekuatan spiritual hingga yang menempatkannya sebagai bagian dari latihan pengendalian energi batin.
Menanggapi fenomena tersebut, Ki Sukma Patih Raga, yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Yayasan Olah Bathin Indonesia (YOBI), menjelaskan bahwa dalam praktik olah batin dan pengembangan spiritual kontemporer dikenal adanya konsep pertahanan batin yang di tengah masyarakat kerap diberi label sebagai Ilmu Laduni.
Ki Sukma Patih Raga sendiri dikenal sebagai salah satu praktisi yang memperoleh pembinaan dan gemblengan spiritual secara langsung dari Guru Besar Al Hikmah Karomah, Buya Zakaria atau yang juga dikenal dengan nama Ki TBS Amy Zakaria. Latar belakang tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari perjalanan pendalaman spiritual yang membentuk sudut pandangnya dalam membedakan antara praktik proteksi batin, keilmuan hikmah, dan pemahaman mengenai konsep Ilmu Laduni dalam perspektif keagamaan.
Menurutnya, dalam praktik olah batin modern terdapat keyakinan mengenai sistem pertahanan diri yang dipercaya bekerja sebagai respons terhadap niat negatif.
“Jika ada orang yang menyerang dengan emosi, niat jahat, atau energi negatif, maka sistem pertahanan tersebut diyakini dapat merespons secara otomatis terhadap niat itu,” ujar Ki Sukma Patih Raga.
Namun ia menambahkan bahwa kemampuan tersebut diyakini tidak selalu aktif dalam setiap situasi.
“Jika seseorang datang tanpa emosi atau hanya melakukan pengujian biasa, maka kemampuan itu dipercaya tidak bekerja. Karena sistem yang diyakini tersebut merespons kondisi psikis dan niat zolim dari pihak yang menyerang,” jelasnya.
Dalam perkembangan praktik spiritual modern, fenomena seperti itu kemudian sering dianalogikan sebagai ilmu mental, ilmu pertahanan batin otomatis, atau proteksi energi karena dipercaya bekerja berdasarkan respons terhadap dorongan negatif dari pihak lain.
Meski demikian, Ki Sukma Patih Raga menegaskan bahwa pemahaman tersebut menurutnya berbeda dengan konsep Ilmu Laduni yang dipahami dalam perspektif keagamaan.
“Ilmu Laduni yang sejati tidak dapat diisikan oleh manusia. Itu merupakan hak prerogatif Allah yang diberikan langsung ke dalam hati hamba-Nya tanpa proses belajar formal maupun transfer energi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa saat ini berkembang pemahaman di masyarakat yang menyebut kemampuan hasil gemblengan guru, ijazah, transfer energi, atau metode spiritual tertentu sebagai Ilmu Laduni.
Menurut pandangannya, dalam tradisi spiritual Melayu dan Nusantara, istilah Laduni pada praktiknya telah mengalami pergeseran makna dan lebih sering digunakan sebagai nama atau label keilmuan tertentu sebagaimana berbagai istilah ilmu hikmah lainnya.
Ketika seorang guru melakukan pengisian, ijazah, shaktipat, atau transfer energi kepada murid dengan tujuan membangun kemampuan proteksi batin, kemampuan tersebut kemudian sering disebut masyarakat sebagai “Ilmu Laduni”.
Namun secara hakikat dan sudut pandang keilmuan Islam yang ia pahami, bentuk tersebut lebih dekat dipahami sebagai ilmu hikmah, wirid pertahanan diri, proteksi batin, atau praktik spiritual lainnya, bukan Ilmu Laduni sebagaimana yang dikenal dalam kajian agama.
Ia menilai penggunaan istilah Laduni menjadi populer karena memiliki kesan sakral, tinggi, dan memiliki nilai spiritual yang kuat di tengah masyarakat.
Sebagai figur yang bergerak di bidang olah batin sekaligus jurnalis, Ki Sukma Patih Raga mengaku melihat fenomena ini dari dua sudut pandang.
Pertama, secara praktik spiritual dan kanuragan, terdapat keyakinan mengenai kemampuan pertahanan diri yang dipercaya dapat memberikan efek psikologis terhadap pihak yang berniat menyerang secara negatif.
Kedua, dari sisi edukasi publik, masyarakat perlu memahami perbedaan antara istilah yang berkembang secara sosial dengan konsep keilmuan dalam agama.
“Yang saat ini ramai disebut sebagai ‘Laduni Isian’ lebih tepat dipahami sebagai bentuk Ilmu Karomah, Hikmah, atau Proteksi Batin. Sementara Ilmu Laduni yang sejati dipahami sebagai bentuk hidayah pemahaman yang Allah tanamkan langsung ke dalam hati manusia,” tutup Ki Sukma Patih Raga.






